Selamatkan Pegunungan Kendeng

Salah satu kekayaan alam Kabupaten Pati adalah Pegunungan Kendeng. Pegunungan Kendeng merupakan deretan perbukitan yang memanjang mulai dari Wilayah Kabupaten Grobogan Jawa tengah hingga Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Pegunungan Kendeng yang berada di Kabupaten Pati lokasinya memanjang sekitar 35 kilo meter mulai dari Kecamatan Sukolilo hingga Kecamatan Pucakwangi. Di lokasi ini terdapat berbagai macam kekayaan alam mulai dari ratusan mata air, puluhan tebing yang indah, pepohonan yang asri sebagai pengendali air dan mengurangi banjir hingga puluhan goa yang eksotik.

Ratusan mata air di pegunungan Kendeng saat ini menjadi penopang sekitar 45% kebutuhan air masyarakat Pati; terutama air minum. Keindahan tebing di Pegunungan Kendeng menjadi daya tarik tersendiri bagi para Pemanjat Tebing dan Pecinta Alam sehingga tebing-tebing di Pegunungan Kendeng ini tidak pernah sepi dari para pemanjat. Keasrian pepohonan yang masih berada di sekitar puluhan goa juga selama ini menambah keindahan dan kenyamanan para pengunjung goa. Goa-goa yang dalam data Dishubpar (Dinas Perhubungan dan Pariwisata) Kabupaten Pati di inventaris sebagai daerah wisata sepi pengunjung karena persoalan lokasi goa-goa itu tidak dikelola dengan baik. Di samping itu berbagai legenda juga menghiasi keberadaan pegunungan Kendeng yang berada di wilayah administratif kecamatan Sukolilo. Salah satu yang dikenal adalah sebuah lokasi yang sering disebut sebagai Lokasi “Pertapan Watu Payung”, diyakini sebagai pertapan dewi Kunti-ibu dari para Pandawa dalam cerita pewayangan. Tempat lain yang juga memiliki makna spiritual di wilayah Pegunungan Kendeng adalah “Goa Nogo Rojo” yang diyakini merupakan peninggalan Anglingdharmo. Goa ini berada di dukuh melawat Desa Baleadi Kecamatan Sukolilo. Terkait dengan legenda itu, sampai saat ini masih banyak warga masyarakat yang sering melakukan prosesi ziarah di tempat-tempat bersejarah itu. Para penziarah itu tidak hanya berasal dari masyarakat setempat tetapi juga berdatangan dari luar daerah.

Pegunungan Kendeng saat ini juga menghidupi ribuan masyarakat tepi hutan dengan budi daya pertanian dan pemanfaatan hutan untuk masyarakat, di samping juga menopang usaha peternakan dan industri rumah tangga yang jumlahnya tak terhitung. Masyarakat petani di wilayah bawah pegunungan ini juga mendapatkan manfaat yang besar berupa aliran air irigasi untuk pesawahan. Oleh karena pemerintah tidak mampu menyediakan saluran irigasi, aliran air yang berasal dari pegunungan ini menjadi satu-satunya penyuplai air untuk pertanian. Di wilayah kecamatan sukolilo saja, terdapat ratusan hektar sawah yang pemenuhan airnya berasal dari pegunungan Kendeng.Selain itu keberadaan pegunungan Kendeng juga diyakini masyarakat sebagai “aling-aling” (penghambat) laju angin kencang sehingga masyarakat yang berada di sekitar Pegunungan Kendeng lolos dari ancaman angin puting beliung yang menjadi salah satu potensi bencana yang potensinya cukup tinggi di Kabupaten Pati.Kenyataan begitu banyak fungsi Pegunungan Kendeng bagi masyarakat, membuat masyarakat sangat khawatir akan hilangnya Pegunungan Kendeng ini. Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan. Maraknya praktek penambangan yang selama ini terjadi sudah mulai berdampak pada menurunnya daya dukung lingkungan Pegunungan Kendeng terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Hal ini ditengarai dengan berkurangnya debit air di beberapa mata air dan juga matinya/hilangnya sejumlah mata air yang berada di pegunungan ini.

Ancaman yang dianggap serius oleh masyarakat adalah rencana pembangunan Pabrik Semen Gresik oleh PT. Semen Gresik di wilayah pegunungan ini. Tentu saja PT. Semen Gresik bukan hanya membangun pabrik tetapi juga akan mengeruk, melakukan praktik penambangan terhadap pegunungan Kendeng. Praktik penambangan ini bukan hanya akan mengurangi daya dukung lingkungan Pegunungan Kendeng, akan tetapi bisa jadi akan mengepras pegunungan Kendeng. Mengubah Pegunungan Kendeng menjadi hamparan tanah lapang dan bisa jadi akan berubah menjadi bangunan ruko atau mall yang diyakini sebagai simbol modernisasi masyarakat era ini. Dengan begitu pasar tradisional Sukolilo yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan akan gulung tikar. Buah sirsak patek, pisang, sawo, gayam, gadung, dan lain-lainnya yang merupakan hasil bumi masyarakat lokal akan tergusur oleh buah-buahan impor.

Kita semua berikutnya akan kehilangan Pegunungan Kendeng. Keberadaan Pegunungan Kendeng hanya akan tinggal cerita. Keberadaannya akan digantikan dengan pekatnya debu yang beterbangan, deru mesin pabrik semen yang bergemuruh, anak-anak dan orang tua yang sakit karena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan), petani yang kehilangan lahan, terjadinya konflik sumber daya air, maraknya kriminalitas dan berbagai ekses buruk lainnya sebagai dampak perubahan dari keberadaan pembangunan pabrik semen itu.

Informasi lebih lanjut dapat anda dapatkan di:

(JM-PPK)

Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

Sekretariat: Rumah Gunretno, Dk. Bombong Ds. Baturejo

Kec. Sukolilo-Pati, telp: 081-22851879, 085-865377731

Selamatkan Alam demi Anak Cucu Kita!!!!

10 Tanggapan

  1. Setuju! Yang jauh dari Sukolilo pasti mendukung pendirian pabrik semen. Soalnya mereka tidak tahu sih, atau malas memikirkannya. Dengan tulisan ini, kita jadi lebih tau.

  2. Walah. Kok dimoderasi. Pateni ah moderasine. PR! :D

  3. Waduh, buetul banget mas. Aku sangat setuju sama postingan ini.
    GBU

  4. Yup’s aq dukung dech, SEMANGAT!!! Demi Alam ,CIAYO! :D

  5. Benar-benar jiwa seorang pecinta alam.
    SALUUUUTTTT

  6. kang,
    rupa-rupanya peraturan tentang peninggalan nenek-moyang (bahasa barunya; heritage) terpaksa dilanggar.

    lha pelanggaran ini siapa polisinya kalau yang melanggar yang membuat peraturan itu sendiri

    siapa yang menjaga `penjaga` ?

    salam prihatin
    am. nugroho

  7. Mata air dan goa, sebenarnya bisa menjadi salah satu sebab pabrik semen batal berdiri. Rekan-2 bisa membacanya di http://petagua.wordpress.com/category/alasan-alasan-untuk-menolak-pabrik-semen/
    Selamatkan Pegunungan Kendeng
    Salam

  8. pejabat kita amat ‘menyayangi alam’ karenanya mereka merasa sayang jika kekayaan alam itu diwariskan kepada pejabat sesudahnya, yang kelak juga berniat menjualnya.

    Contohnya saja: http://alamendah.wordpress.com/2009/05/12/alamku-sayang-alamku-malang/

  9. jalan -jalan ketemu blog yg mantap.

Tinggalkan Balasan