Produksi semen dari sampah…gak mungkin ahh???

Di zaman moderen ini perkembangan teknologi semakin cepat. Sesuatu yang dulunya kita anggap hal mustahil pun sekarang sudah banyak terbukti dan bahkan kadang itu merupakan hal yang biasa bagi kita. Nenek moyang kita mungkin tidak akan menyangka, dengan benda kecil yang kita namai handphone bisa berkomunikasi dengan orang yang jaraknya sangat jauh. Betapa dasyatnya perkembangan teknologi. Tapi dibalik perkembangan teknologi, manusia juga tidak lupa  membuat alam menjadi berkembang (maksudnya berkembang menjadi hancur).
Lalu bagaimana caranya agar perkembangan teknologi ini tidak meninggalkan tangisan alam?? Sebenarnya dibalik manusia yang serakah, masih banyak lho manusia yang bijak. Manusia gitu lho!! aku kan juga manusia…Hidup Manusia!!!! Jangan melulu menyalahkan manusia donk!!! kita kan juga manusia. Oleh sebab kelakuan sekelompok manusia yang tidak bertanggung jawab,  jadi kebawa deh nama manusia. Tinggal termasuk manusia yang manakah anda????
Baiklah, saatnya kembali ke jalan yang benar!!! maksudnya kembali ke topik kita di atas…produksi semen dari sampah!!! mungkin gak ya??? Saatnya nih memperbaiki nama manusia…karena beberapa manusia di Jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan Ekosemen. Mou tau lebih lanjut??? Penasaran?? klik aja di sini
karena pada hakekatnya saya sendiri juga kurang mudeng akan proses pembuatanya jadi lebih baik langsung aja ke yang lebih ahli ya!! Cory kawan!!! Jadi dioper kayak naek bus..;)
Tapi walaupun gak mudeng aku juga masih punya sedikit saran lho!!! Bagaimana ya seandainya bila sampah-sampah yang ada dipemerintahan yang rela menjual alam dengan berkedokkan mensejahterakan rakyat dan mengurangi pengangguran bisa
juga tuh sebagai alternatif untuk dicampur jadi bahan dasar
semen..he..he…siapa tau kwalitas semennya jadi meningkat

( WARNING!!sampah2 pemerintahan tersebut sangatlah berbahaya
dan bisa menimbulkan kerusakan alam yang sangat dasyat!!! )

PA belum tentu Pecinta Alam

Akhir-akhir ini jumlah organisasi atau klub-klub PA semakin bertambah. Mereka mengatas namakan diri Pecinta Alam.Tapi dapatkah dengan semakin bertambahnya jumlah organisasi tersebut mampu membawa alam ke keadaaan yang lebih baik???Atau malah mereka menjadi bagian dari para perusak alam???Karena banyak yang mengatas namakan diri anak PA (Pecinta Alam),tapi mereka tidak tau makna kata tersebut. dan akhirnya mereka malahan menjadi bagian atau keluarga besar dari kepanjangan PA yang laen (maksudnya PERUSAK ALAM). Mereka hanya tau mendaki,mencoret-coret tubuh alam dengan nama mereka atau nama organisasi mereka. Mereka mengatakan bahwa itu sebuah tanda atau kenangan bahwa mereka pernah sampai di tempat tersebut. Padahal sebagai seorang Pecinta Alam harusnya malu jika namanya terukir di pohon2 atau batu2 yang malahan merusak kealamian alam. Yang lebih mengenaskan lagi banguna-bangunan atau tempat-tempat bersejarah pun ikut ternodai oleh coret-coretan tersebut. Dan itu bukan seni!!!
Pecinta Alam merupakan jiwa bukan sekedar nama. Selain para makluk2 yang tak mengerti tentang mencintai alam banyak juga organisasi atau klub2 Pecinta Alam yang memang telah mendasari diri mereka dengan jiwa Pecinta Alam (Saluut buat kalian!!!). Terkadang tidak mudah untuk masuk ke PA yang benar-benar PA mereka harus menjalani diklat dan bentakan-bentakan dari senior mereka. Salah satu tujuannya adalah agar yang menjadi anggota mereka benar-benar orang yang terpilih dan benar-benar bisa mencintai alam. Karena bentakan manusia sekeras apapun tak kan mampu menyamai bentakan alam, baik itu oleh petir, auman harimau ataupun desisan ular yang walau pelan tapi cukup membuat kebanyakan orang takut. Penguasaan materi dan persiapan yang matang pun diperlukan untuk melakukan kegiatan di alam bebas. Karena Alam tidak main-main dan pandang bulu, jika cuaca buruk atau keadaaan alam sangat tidak mendukung kita harus siap menghadapi itu semua.
Kegiatan di alam bebas memang sangat menyenangkan dan semakin sering manusia mulia menjamah kegiatan tersebut. Mereka yang mendaki gunung belum bisa dikatakan Pecinta alam. Orang yang mendaki gunung disebut Pendaki, tapi Pendaki belum tentu Pecinta Alam dan orang yang mengaku Pecinta Alam pun belum tentu bisa mencintai alam. Dan jangan rusak nama Pecinta Alam dengan perbuatan2 kalian yang malah merusak alam.


Lalu apa buktinya kalau kita telah mencintai alam???Kalau tidak mampu untuk memperbaiki setidaknya jangan merusak atau mencemari alam. Kalau semua manusia sadar akan hal itu, akan sangat membantu dalam mencegah kerusakan alam. Dan yang lebih baik lagi bila kita bisa melakukan penghijauan dan sebagainya. Jika kerusakan Alam tidak dihentikan akankah kisah petualangan kita di gunung cuma menjadi sebuah cerita masa lalu yang tak bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Mungkin kelak kita akan menceritakan sebuah kisah tentang tempat yang dulu sejuk, nyaman, penuh pohon2, bunga2 dan kicauan burung telah menjadi bangunan yang yang penuh debu,polusi dan udara panas yang terjamah oleh peradapan modern yang semakin menyakitkan bagi alam. Sungguh menyedihkan bila membayangkan apa yang bisa kita nikmati sekarang dari alam takkan mampu dinikmati oleh anak cucu kita.

Kunci CCNA chapter 7

Kunci CCNA chapter 7 dapet 90,5

Kunci CCNA chapter 6

Kunci CCNA chapter 6 Dapet 85

Kunci CCNA 4 chapter 3

Kunci CCNA 4 chapter 3 bener 80%

Kunci CCNA 4 chapter 2

Kunci CCNA 4 chapter 2 dapet 90

Kunci CCNA 4 chapter 1

Kunci CCNA 4 chapter 1dapet 74